Minggu, 14 Agustus 2011

Objek, Model dan Lingkungan


BAB I
PENDAHULUAN
              
               Media pembelajaran merupakan sebuah alat bantu bagi para guru dalam bidang tugasnya dikelas. Media pembelajaran apabila digunakan secara tepat dapat membantu mengatasi kelemahan dan kekurangan guru dalam pembelajaran, baik itu dalam penguasaan materi maupun dalam metodologi pembelajarannya.
               Guru yang mampu memilih media pembelajaran yang sesuai dan memprogramkan pemakaiannya, maka peranannya dapat diserahkan sebagian pada media pembelajaran. Dalam pelaksanaan media pembelajaran oleh guru,guru bukan berarti melepas tanggung jawabnya terhadap siswa dan menyerahkan peranannya kepada media sepenuhnya begitu saja. Akan tetapi guru membantu dalam pelaksanaan media pembelajaran bagi siswa.
               Didalam makalah ini dipembahasan selanjutnya, dijelaskan secara singkat dan jelas beberapa media pembelajaran dalam membantu peranan guru dalam bidang tugasnya. Objek, model dan lingkungan sebagai beberapa bagian dari begitu banyaknya media pembelajaran yang ditawarkan, mulai dari pengertian sampai dengan cara penggunaannya, dari kelebihan sampai dengan kekurangannya akan dibahas secara singkat pada pembahasan selanjutnya didalam makalah ini.



BAB II
OBJEK, MODEL DAN LINGKUNGAN

A. Objek (Benda Sebenarnya)
     1. Definisi dan Karakteristik Umum Objek
          Objek merupakan benda aslinya yang dijadikan sebagai media dalam pembelajaran. Ada beberapa karakteristik dari media benda sebenarnya ini adalah: (1) pebelajar lebih jelas dan akurat dalam menerima informasi/pengetahuan tentang suatu objek yang sedang dipelajari,karena melihat benda aslinya, (2) dapat dilakukan dengan mengajak pebelajar mengunjungi benda sebenarnya atau membawa benda sebenarnya ke hadapan pebelajar, (3) membutuhkan waktu yang relatif lama dari persiapan  dan pelaksanaannya, (4) sulit membawa benda aslinya yang berwujud besar.
          Menggunakan benda-benda nyata atau mahluk hidup (real life materials) dalam pembelajaran sering kali paling baik, dalam menampilkan benda-benda nyata tentang ukuran, suara, gerak-gerik, permukaan, bobot-badan, bau dan manfaatnya.

     2. Kelebihan dan Keterbatasan Objek dalam Pembelajaran
           Beberapa kelebihan jika guru menggunakan objek dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a.       Dapat memberi kesempatan semaksimal mungkin pada siswa untuk melaksanakan  tugas-tugas nyata, atau tugas-tugas simulasi, dan mengurangi  transfer belajar.
b.      Dapat memperlihatkan  seluruh atau sebagian besar rangsangan yang relevan dari lingkungan kerja, dengan biaya yang sedikit.
c.       Memberi kesempatan kepada, siswa untuk mengalami dan melatih  keterampilan manipulatif mereka dengan menggunakan indera peraba.
d.      Memudahkan pengukuran penampilan siswa, bila ketangkasan fisik atau keterampilan koordinasi diperlukan dalam pembelajaran.

           Disamping kelebihan, dalam penggunaannya objek juga mempunyai beberapa keterbatasan, diantaranya sebagai berikut:
a.       Seringkali dapat menimbulkan  bahaya bagi siswa atau orang lain dalam lingkungan kerja.
b.      Mahal, karena biaya yang diperlukan tidak sedikit untuk peralatan, dan ada kemungkinan rusaknya alat yang digunakan.
c.       Tidak selalu dapat memberikan semua gambaran dari objek sebenarnya, seperti pembesaran, pemotongan, dan gambar bagian demi bagian, sehingga pengajaran harus didukung dengan media lain.
d.      Seringkali sulit mendapatkan tenaga ahli untuk menangani latihan kerja.
e.       Sulit untuk mengontrol hasil belajar, karena konflik-konflik yang mungkin terjadi dengan pekerjaan, atau dengan lingkungan kelas.[1]


3. Prosedur Penggunaannya dalam  Pembelajaran
          Cara yang dapat digunakan untuk memanfaatkan benda  sebenarnya menjadi media pembelajaran antara lain;
a.       Benda-benda yang akan diterangkan dibawa masuk kedalam kelas.
b.      Siswa dibawa keluar kelas untuk mengamati benda-benda yang sebenarnya dengan jalan
Ø  Mengadakan observasi
Ø  Mengadakan percobaan
Ø  Mengadakan widyawisata
                                                                                                                   

B. Model (Benda Tiruan)
     1. Definisi Model
          Yang dimaksud dengan model dalam media pembelajaran adalah benda tiruan yang menyerupai benda aslinya. Dalam pembelajaran dapat digunakan model karena banyak faktor antara lain adanya faktor keterbatasan karena memungkinkan benda aslinya tidak ada, Faktor lain dianggap lebih menguntungkan ketimbang menggunakan benda aslinya.

     2. Jenis-jenis Model
          Menurut Sudjana dan Rivai (1989) model dapat dikelompokkan kedalam enam kategori, yaitu :
a.       Model padat yaitu suatu model padat yang biasanya memperlihatkan bagian permukaan luar daripada objek dan acap kali membuat bagian-bagian membingungkan gagasan utamanya dari bentuk, warna, dan susunannya.
b.      Model penampang yaitu memperlihatkan bagaimana sebuah model itu tampak, apabila bagian permukaannya diangkat untuk mengetahui susunan  bagian dalamnya.
c.       Model susun yaitu terdiri dari beberapa bagian objek yang lengkap, atau sedikitnya sesuatu bagian penting dari objek itu.
d.      Model kerja yaitu tiruan dari suatu objek yang memperlihatkan bagian luar objek asli, dan mempunyai beberapa bagian dari benda yang sebenarnya.
e.       Mock up atau alat tiruan sederhana dimaksudkan adalah tiruan dari benda sebenarnya dan dipilih bagian-bagian yang penting untuk disederhanakan agar memudahkan untuk dipelajarinya.
f.       Diorama adalah sebuah pemandangan tiga dimensi mini bertujuan untuk menggambarkan pemandangan sebenarnya. Diorama biasanya terdiri atas bentuk-bentuk sosok atau objek-objek, ditempatkan dipentas yang berlatar belakang lukisan yang disesuaikan dengan penyajian.


     3. Manfaat dan Kekurangan Model
          Manfaat penggunaan model sebagai media pembelajaran antara lain:
a.       Dapat mengatasi benda aslinya.
b.      Untuk mengatasi keterbatasan pengamatan manusia.
c.       Untuk mengatasi ketenggangan waktu. Artinya bahwa peristiwa-peristiwa masa lalu yang terjadi tempat atau lokasi, yang tidak memungkinkan dilihat, dapat diatasi dengan dibuatkan model-model kejadian.[2]

          Sekalipun model sudah bisa dianggap mewakili benda yang asli, namun karena ia adalah benda tiruan, tentu saja memiliki kekurangan dalam beberapa aspek tertentu antara lain:
a.       Disebabkan aspek besarnya benda.
b.      Perubahan karena pengaruh luar.
c.       Pada suatu saat tak canggih (up to date) lagi.

      4. Menggunakan Model
          Menggunakan model dalam kelas hendaknya disesuaikan dengan program mengajar. Pada umumnya saran-saran dibawah ini dapat menjadikan pengajaran menjadi lebih efektif.
1.      Bentuk dan besarnya model perlu diperhatikan agar bisa dilihat oleh kelas.
2.      Jangan terlalu banyak memberikan penjelasan sebab biasanya para siswa mengkonsentrasikan perhatiannya kepada model dan bukan kepada penjelasan.
3.      Gunakan model  untuk maksud tertentu dalam pengajaran bukan bertujuan untuk mengisi waktu guru dan mengurangi peranan guru dikelas.
4.      Usahakan agar para siswa sebanyak mungkin belajar dari model dengan mendorong mereka bertanya, berdiskusi, atau memberikan kritik.
5.      Pada waktu-waktu tertentu gunakan sejumlah model,bukan hanya sebuah model saja.
6.      Model hendaknya diintegrasikan dengan alat-alat lainnya supaya pengajaran lebih berhasil.
7.      Didalam suatu pelajaran gunakan hanya model-mode yang terpilih saja.
8.      Kalau menggunakan beberapa model hendaknya model itu satu sama lain berhubungan dan menghubungkan pelajaran satu dengan pelajaran lainnya.
9.      Baik juga menggunakan model dari skala yang berbeda tetapi menunjukkan benda yang sama.
10.  Apabila sebuah model sudah digunakan, maka simpanlah baik-baik pada tempatnya yang aman dan bersih agar dapat digunakan dalam pengajaran yang akan datang atau bila diperlukan oleh guru lain.[3]


B. Lingkungan
     1. Pengertian Lingkungan
          Lingkungan sebagai media dalam pembelajaran, maksudnya menciptakan atau membentuk suatu lingkungan tertentu sebagai pusat yang akan dipelajari, dapat diwujudkan diluar kelas atau kelas itu sendiri yang dikondisikan untuk dapat dipelajari oleh siswa dan guru dalam pembelajarannya.[4]

     2. Keuntungan dan Kelemahan Lingkungan
Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar antara lain:
a)      Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk dikelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b)      Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
c)      Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat.
d)     Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif.
e)      Sumber belajar lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam.
f)       Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya.
          Beberapa kelemahan dan kekurangan yang sering terjadi dalam pelaksanaannya berkisar pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar. Misalnya:
a)Kegiatan belajar kurang dipersiapkan sebelumnya yang menyebabkan pada waktu siswa dibawa ke tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan sehingga ada kesan main-main.
b)      Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga menghabiskan waktu untuk belajar dikelas.
c)Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas.

     3. Teknik Menggunakan Lingkungan
          Ada beberapa cara bagaimana mempelajari Lingkungan sebagai media dan sumber belajar.
1.      Survey, yakni siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain-lain.
2.      Kemping atau berkemah. Kemah memerlukan waktu yang cukup lama sebab siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dan berbagai hal lainnya yang terjadi dengan alam sekitar ia berkegiatan.[5]
Perkemahan ini banyak mempunyai nilai-nilai pendidikan, Misalnya merasa dekat dengan alam sekitar dan menimbulkan rasa kagum terhadap keindahan alam sebagai ciptaan Tuhan dan dapat menimbulkan rasa dekat dengan Tuhan pencipta alam semesta, memupuk rasa tanggung jawab, jiwa gotong royong,dan perasaan sosial. Perkemahan sekolah merupakan teknik pendidikan dan pembinaan praktis untuk pembentukan kepribadian dan budi luhur, dan berjiwa sosial serta bertanggung jawab atas tugas yang diemban.[6]
3.      Field trip atau karyawisata. Dalam pengertian pendidikan, karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler disekolah. Sebelum karyawisata dilakukan siswa, sebaiknya dilakukan objek yang akan dipelajari dan cara mempelajarinya serta kapan sebaiknya dipelajari.
4.      Praktek lapangan. Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus.
5.      Melalui proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat.
6.      Mengundang manusia sumber atau nara sumber. Berbeda dengan cara sebelumnya, Jika pada cara sebelumnya kelas dibawa ke masyarakat, pada nara sumber mengundang tokoh masyarakat kesekolah untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannya dihadapan para siswa.

     4. Jenis Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran
          Beberapa lingkungan yang dapat digunakan dalam pembelajaran, dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Lingkungan sosial
          Lingkungan sosial sebagai sumber belajar berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama dan sistem nilai.

b.      Lingkungan alam
          Lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora (tumbuhan), fauna (hewan), sumber daya alam (air, tanah, batu-batuan dan lain-lain).

c.       Lingkungan buatan
          Lingkungan buatan maksudnya lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Antara lain seperti irigasi, bendungan, pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik.

     5. Langkah dan Prosedur Penggunaannya
          Secara umum langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yaitu:
1.      Langkah persiapan
          Hal-hal yang perlu ditempuh yaitu; (a) menentukan tujuan yang ingin dicapai secara jelas, (b) tentukan objek yang harus dipelajari dan dikunjungi, (c) menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan, (d) selesaikan perizinan yang diperlukan, (e) persiapkan persiapan teknis yang diperlukan untuk pembelajaran, seperti petunjuk teknis, alat-alat dibawa dan lain-lain.

2.      Langkah pelaksanaan
          Biasanya diawali dengan penjelasan petugas mengenai objek yang dikunjungi sesuai dengan permintaan yang telah disampaikan sebelumnya. Selanjutnya lakukan kegiatan-kegiatan yang telah dirancang dan diskenariokan sebelumnya.

3.      Tindak lanjut
          Pada kegiatan ini yang terpenting guru meminta kepada siswa untuk memberikan kesan-kesan yang diperolehnya dari hasil kunjungannya, yang berupa laporan kegiatan, kemudian didiskusikan bersama-sama.[7]












BAB III
PENUTUP

Simpulan
          Dalam pembelajaran objek, model dan lingkungan dikenal sebagai sebuah media pembelajaran yang mana fungsinya tidak jauh beda dengan media-media yang digunakan dalam pembelajaran lainnya dalam membantu guru untuk penyaluran bahan pembelajaran guna merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
          Objek, model dan lingkungan memiliki peranan masing-masing dalam penggunaannya sebagai media pembelajaran. Objek, model dan lingkungan dalam penggunaannya sebagai media pembelajaran juga tidak luput dari yang namanya kekurangan, namun dibalik kekurangannya objek, model dan lingkungan memiliki manfaat dan keuntungan yang juga berarti dalam penggunaannya sebagai media pembelajaran.
          Oleh karenanya dalam menanggulangi kekurangan objek, model dan lingkungan serta guna mendapatkan keuntungan dan manfaatnya dalam pemakaiannya sebagai media pembelajaran, hendaknya guru mengikuti prosedur penggunaan serta teknik-teknik tertentu dalam menerapkan dan menggunakan objek sebagai media pembelajaran terhadap para siswa dikelas sebagaimana yang telah diuraikan dan dijelaskan secara singkat pada pembahasan sebelumnya didalam makalah ini.
          Guru hendaknya jangan lupa bahwa peranannya dikelas itu sangat berarti dan media tidak bisa begitu saja melepaskan atau bahkan menggantikan posisinya dihadapan anak didiknya dikelas. Guru hendaknya bisa menggunakan media pembelajaran, seefektif dan seefisien mungkin guna keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
DAFTAR PUSTAKA


               Asnawir dan M. Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Press
               Hamalik, Oemar. 1989. Media Pendidikan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakri
               Jennah, Rodhatul. 2009. Media Pembelajaran. Banjarmasin: Antasari Press
               Ramli, Muhammad. 2008. Media dan Teknologi Pembelajaran. Banjarmasin: Copyperdana
               Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 1997. Media Pengajaran. Bandung: CV. Sinar Baru







                [1] Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, (Banjarmasin: copyperdana, 2008), h. 62-63.
               [2] Rodhatul Jennah, Media Pembelajaran, (Banjarmasin: Antasari Press, 2009), h. 80-85.
               [3] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti), h. 134-135.

               [4] Muhammad Ramli, op.cit, h. 66-67.
               [5] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1997), h. 209-210.
               [6] H. Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 114
               [7] Muhammad Ramli, op.cit, h. 68-69.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar